YOGYAKARTA – Kota Yogyakarta resmi menjadi pusat perhatian dunia kesehatan mental setelah menyelenggarakan South-East Asia AFPA Regional Congress 2026 pada 30 April hingga 3 Mei 2026. Bertempat di Royal Ambarrukmo Hotel, kongres ini mempertemukan para psikiater, akademisi, peneliti, dan praktisi kesehatan mental dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara dan Asia secara umum.
Kongres AFPA 2026 diikuti hamper 500 peserta yang terdiri dari berbagai profesi di bidang kesehatan mental. Rincian peserta meliputi 275 dokter spesialis (psikiater), 111 dokter umum, 46 peserta program pendidikan dokter spesialis (PPDS), 25 psikolog, 8 clinical trainee, 8 mahasiswa kedokteran, serta 1 orang perawat. Komposisi ini menunjukkan tingginya keterlibatan tenaga profesional dan calon profesional dalam diskusi lintas disiplin.
Dari sisi cakupan geografis, kongres ini menghadirkan partisipan dari 13 negara. Sebanyak 397 peserta berasal dari Indonesia sebagai tuan rumah, sementara sisanya merupakan delegasi internasional. Negara dengan jumlah delegasi terbanyak berikutnya adalah Malaysia dan Thailand (masing-masing 15 orang), disusul Sri Lanka (13 orang), Bangladesh (10 orang), serta Filipina (9 orang). Delegasi juga datang dari Jepang (5 orang) dan Belanda (4 orang). Satu hingga dua orang peserta hadir dari Australia, India, Pakistan, Singapura, dan Vietnam. Keberagaman asal peserta ini mencerminkan komitmen AFPA dalam membangun forum regional yang inklusif dan lintas batas.
Dinamika Kesehatan Mental di Era Digital
Mengusung tema "Mental Health in the Digital Era: Adversity Mental Health Challenges in a Dynamic Global Society," kongres ini membahas secara mendalam tantangan kesehatan mental yang muncul akibat dinamika global, seperti perubahan iklim, konflik sosial, pandemi, serta percepatan transformasi digital. Para ahli sepakat bahwa tekanan global tersebut telah meningkatkan prevalensi gangguan kecemasan, depresi, dan trauma psikologis di berbagai lapisan masyarakat.
Dalam sambutannya, Presiden Asian Federation of Psychiatric Association (AFPA), Prof. dr. Andi Jayalangkara Tanra, Sp.KJ(K), Ph.D. , menegaskan bahwa kolaborasi lintas negara menjadi syarat mutlak dalam menghadapi krisis kesehatan mental saat ini. “Tidak ada satu negara pun yang mampu mengatasi tantangan ini sendirian. Regionalisme dan kemitraan global adalah kunci,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana AFPA Congress, Dr. dr. Suzy Yusna Dewi, Sp.KJ(K) , menyampaikan bahwa kongres ini diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat jejaring profesional serta mendorong inovasi kebijakan dan layanan kesehatan mental berbasis bukti ilmiah.
Peluang dan Tantangan Teknologi Digital
Salah satu fokus utama kongres adalah pemanfaatan teknologi digital dalam layanan kesehatan mental. Para pemateri memaparkan bahwa telemedicine, aplikasi kesehatan mental, serta platform konseling online telah terbukti memperluas akses layanan, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil. Kecerdasan buatan (AI) juga mulai digunakan untuk deteksi dini gangguan mental dan pemantauan kondisi pasien secara real-time.
Namun demikian, kongres juga menyoroti berbagai tantangan serius yang menyertai transformasi digital tersebut. Isu perlindungan data pribadi dan keamanan informasi menjadi perhatian utama, mengingat data kesehatan mental termasuk kategori informasi yang sangat sensitif. Selain itu, kesenjangan akses terhadap infrastruktur digital masih menjadi kendala nyata yang berpotensi memperlebar ketimpangan layanan kesehatan antardaerah.
Para pakar juga mengingatkan perlunya regulasi dan standar layanan digital yang jelas, serta kesiapan tenaga profesional dalam menguasai teknologi baru. Tanpa hal tersebut, layanan kesehatan mental digital dikhawatirkan tidak aman, tidak efektif, bahkan dapat merugikan pasien.
Rangkaian Kegiatan dan Pengalaman Budaya
Selama empat hari pelaksanaan, kongres menyelenggarakan berbagai sesi ilmiah, antara lain plenary lectures, simposium, lokakarya, malam budaya serta presentasi hasil penelitian lintas negara. Diskusi yang berlangsung tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga menghasilkan rekomendasi praktis yang dapat diadaptasi oleh masing-masing sistem kesehatan nasional.
Di luar agenda ilmiah, penyelenggaraan kongres di Yogyakarta juga memberikan pengalaman budaya yang memperkaya suasana diskusi. Para peserta mengapresiasi keramahan masyarakat lokal serta kunjungan ke situs bersejarah seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang turut menciptakan lingkungan inspiratif bagi pertukaran gagasan.
Penutup
AFPA 2026 menegaskan bahwa kesehatan mental kini bukan lagi isu sektoral, melainkan fondasi utama pembangunan manusia yang berkelanjutan. Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, pengakuan terhadap kesehatan mental sebagai bagian integral dari kesejahteraan masyarakat menjadi pesan utama yang dibawa pulang oleh setiap peserta kongres. Kongres ini diharapkan menjadi langkah awal bagi percepatan transformasi layanan kesehatan mental di Asia Tenggara, dengan Yogyakarta sebagai simbol pertemuan antara kearifan lokal dan inovasi global.
Informasi lebih lanjut hubungi :
Staf Bagian Publikasi AFPA 2026 dan Staf Hubungan Luar Negeri PDSKJI
dr. Andri, Sp.KJ
Psikiater memegang peranan penting dalam proses pemeriksaan sebuah kasus hukum, baik untuk membuat visum et repertum maupun sebagai saksi ahli. Psikiater yang mengkhususkan diri pada hal tersebut, disebut psikiater forensik atau konsultan forensik. #psikiater #forensik #pdskji #pdskjiindonesia #dokter #kasushukum #kesehatan #kesehatanmental #pengadilan #dokterspesialis
https://www.instagram.com/reel/Cqt5XUiO4Ug/?igshid=MDJmNzVkMjY=
Paradigma pengobatan skizofrenia saat ini telah bergeser...
KLIK link ini! https://alomedika.onelink.me/qZen/9216422523 Oktober 2026 - INFORMATION 0822-9559-7894 ...
10 September 2026 - INFORMATION 0813-806-1502 ...
17 Juli 2026 - 📢 Save the Date !! SPENEX 6 kembali hadir tahun 2026 From Couples to Gen...
© 2014 - 2026 PDSKJI