Posted by Administrator | Kategori: Umum

Jangan Takut Ke Dokter Jiwa


Selama ini kebanyakan orang akan merasa tidak nyaman bila berobat ke dokter jiwa atau sering disebut Psikiater. Hal ini disebabkan karena prasangka dan stigma dari masyarakat terhadap orang-orang yang berobat ke dokter jiwa. Masyarakat kita kebanyakan menganggap orang sakit jiwa berat alias GILA yang datang ke dokter jiwa.

Pendapat ini tentunya salah besar. Tidak salah memang dokter jiwa dikatakan mengobati pasien jiwa berat alias Gila atau dalam bahasa kedokterannya Skizofrenia. Tapi pasien Skizofrenia hanyalah sebagian dari pasien yang datang ke dokter jiwa. Selebihnya adalah pasien-pasien yang mengalami depresi, kecemasan, masalah pribadi dan sosial serta pasien-pasien medis yang mengalami gangguan psikologis akibat sakit kronik yang dideritanya.

Pasien Apa Saja Yang Berobat ke Dokter Jiwa?

Seperti telah disebutkan di atas, ternyata yang datang ke dokter jiwa bukan hanya pasien-pasien gangguan jiwa berat seperti Skizofrenia tapi juga pasien-pasien depresi dan kecemasan.

Depresi dan kecemasan di dalam praktek kedokteran sering kali timbul sebagai suatu gangguan fisik. Pasien depresi misalnya selain mengeluh perasaan putus asa dan hampa, seringkali disertai keluhan fisik seperti gangguan perut, nyeri otot, lemah dan perasaan lelah yang hebat, sulit tidur, sakit kepala serta perasaan tidak nyaman di tubuh.

Sedangkan kecemasan bisa timbul sebagai keluhan jantung berdebar, rasa tercekik, perasaan sebah dan ingin muntah, keluar keringat dingin terus menerus, gemetaran, rasa panas di badang yang tidak dapat dijelaskan sampai nyeri-nyeri otot. Pada kecemasan panik bahkan pasiennya merasa takut mati atau menjadi gila. Hal ini seringkali salah dikira oleh pasien sebagai gangguan jantung atau serangan jantung.

Ada juga pasien gangguan medis umum seperti diabetes, stroke, kanker atau rematik yang menjadi depresi atau cemas akibat penyakitnya. Hal ini bila dibiarkan akan mengganggu proses penyembuhan dari penyakit dasarnya juga. Ada pula pasien yang sering mengeluh kondisi tubuhnya yang tidak nyaman (biasanya berhubungan dengan adanya nyeri, gangguan perut dan gangguan fungsi seksual) tapi setelah diperiksa tidak ada masalah. Pasien inilah yang dahulu disebut sebagai gangguan Psikosomatik.

Apa Yang Dilakukan Dokter Jiwa?

Setelah mendiagnosis pasien, tentunya akan segera diambil tindakan terapi untuk mengatasi gejala yang dialami pasien. Pengobatan dalam kedokteran jiwa dibagi menjadi dua yaitu dengan obat dan psikoterapi.

Pengobatan dengan obat dalam jangka waktu tertentu dikarenakan pasien yang mengalami gangguan jiwa akan berubah juga struktur dan mekanisme di dalam otaknya. Untuk mengembalikan fungsi itu dibutuhkan obat yang tepat dan berguna untuk pasien.

Ketakutan pasien selama ini adalah ketergantungan obat. Hal ini tentunya tidak perlu ditakutkan karena hal itu tidak akan terjadi. Kebanyakan masyarakat kita sendiri masih belum paham benar apa arti dari ketergantungan. Ketergantungan adalah bila pasien terus meningkatkan dosis obat untuk mendapatkan efek dari obat dan tidak mampu berfungsi secara pribadi dan sosial karena sibuk mencari obat tersebut. Hal ini tidak terjadi pada pemakaian obat-obat jiwa dalam pengawasan dokter.

Psikoterapi yang intinya pengobatan dengan cara-cara psikologis seperti terapi perilaku, terapi kognitif dan relaksasi juga sangat diperlukan. Psikoterapi sudah terbukti secara ilmiah dapat membantu proses penyembuhan pasien dan mampu mengatasi masalah-masalah pasien ketika pasien sudah tidak memakai obat lagi.

Jadi jangan takut untuk ke dokter jiwa untuk berkonsultasi. Satu hal penting yang perlu diingat bahwa gangguan jiwa baik itu skizofrenia, depresi atau kecemasan yang tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan kerusakan otak. Keadaan ini dapat membuat orang yang menderitanya mengalami penurunan fungsi berpikir yang berat.

 

dr. Andri, SpKJ
Psikiater, Anggota The Academy of Psychosomatic Medicine, Anggota Bidang Publikasi PP PDSKJI